KutipanSehat, Pemerintah memiliki kewajiban melindungi warganya terhadap berbagai pengaruh yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Termasuk dalam melakukan kampanye maupun seruan terhadap dampak buruk dari merokok. Namun dibalik seruan dan kampanye bahaya rokok itu tentunya kita juga perlu mengetahui alasan merokok dari para perokok itu sendiri.
Alasan ini tentunya penting sekali untuk memahami kebiasaan merokok dari para perokok. Tentunya tidak akan menguntungkan bila anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk kampanye anti rokok tidak membuahkan hasil. Apalagi anggaran itu tentunya tidak kecil, baik untuk pembuatan iklan, membuat berbagai bentuk seruan, maupun berbagai bentuk kampanye lainnya.
Tuntutan Profesi
Ada banyak alasan yang kerap terlontar dari para perokok tentang kegemaran mereka menghisap rokok. Diantaranya menyangkut masalah pencitraan sebagai lelaki. Alasan ini muncul akibat cibiran atau ejekan teman-temannya yang sudah merokok terlebih dahulu. Begitu juga dengan alasan untuk mempererat pergaulan terutama karena lingkungannya turut berpengaruh terhadap kebiasaan merokok itu.
Kebiasaan merokok yang terjadi pada kaum perempuan tak sedikit disebabkan atau didorong oleh pengaruh pergaulan maupun tuntutan profesi. Para artis, selebriti, maupun para pengusaha umumnya membutuhkan media yang dapat merekatkan hubungan maupun jaringan mereka. Salah satunya melalui rokok.
Selain itu, kebiasaan merokok juga berhubungan dengan reaksi tubuh terhadap lingkungan. Seperti yang dilakukan para perokok yang tinggal di wilayah yang dingin. Orang Barat yang tinggal di kawasan bersalju umumnya melawan dinginnya udara dengan cara merokok.
Begitu juga dengan orang-orang ataupun sejumlah suku yang tinggal di pegunungan, umumnya banyak yang merokok. Baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Untuk kasus ini mungkin lebih mudah dipahami sebagai upaya tubuh menjaga kehangatan.
Mencandu
Namun dari sekian banyak alasan merokok, ada beberapa yang cukup mendasar. Diantaranya menyangkut masalah kenikmatan maupun karena kebiasaan sehingga mencandu.
Tidak mudah menggambarkan bagaimana kenikmatan yang dirasakan perokok saat menghisap sebatang rokok. Apalagi kenikmatan ini umumnya dirasakan orang-orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang berhubungan dengan seni atau dunia kreatif, seperti seniman, jurnalis, dan sebagainya.
Rokok berbeda dengan makanan. Rasa rokok pun hambar. Orang yang baru pertama kali merokok umumnya bukan disebabkan oleh rasanya yang enak seperti halnya kita mencicipi makanan. Namun karena rokok mengandung zat kimia yang menyebabkan ketergantungan, maka merokok pun akhirnya mencandu.
Kalau sudah demikian, tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok. Secanggih dan semenarik apapun kampanye bahaya merokok tak akan dapat mengubah perilaku merokok secara cepat.
Oleh karena itu, upaya atau kampanye anti rokok sebaiknya bukan dengan iklan atau poster tentang dampak rokok terhadap kesehatan yang ditujukan untuk para perokok. Pemerintah mungkin lebih baik membatasi jumlah perokok baru, terutama dari kalangan anak-anak dan remaja.
Dengan pembatasan ini, diharapkan alasan merokok untuk kenikmatan yang mencandu dapat dicegah atau dieliminir.






0 komentar:
Posting Komentar